Saturday, April 23, 2011

About OVJ

Kalau ditanya tentang acara hiburan yang paling banyak ditonton dan digemari saat ini, kayaknya jawabannya OVJ alias opera van java ya…

Tapi, hah, kayaknya saya tidak terlalu "suka", atau lebih jujur tidak terlalu bisa menikmati acara yang satu ini.. beda dengan acara SSTI, extravaganza, kanjeng mami, atau bahkan awas ada sule yang justru saya sangat nikmati..

Kenapa?

Hm.. pertama, namanya itu lho.. OPERA VAN JAVA. Oke, jujur gw gak tahu pasti apa arti "van" sesungguhnya… tebakanku itu bahasa belanda ya? Mungkin sama artinya ketika kita mendengan istilah "paris van java" yang artinya (menurutku sih…) "parisnya pulau jawa". Jadi, (sekali lagi menurutku) opera van java adalah "operanya pulau jawa" atau lebih extrim "operanya orang jawa", atau yang lebih lembut "opera yang pemainnya orang dari pulau jawa". Jadinya kesannya gimana ya? Rada-rada ethnictronisme lah (apa lagi itu??). mengingatkan ku pada sebuah istilah yang pernah kubaca " kolonialisme jawa". Hii, tak mau membahas istilah itulah… saya bukan anti sama sama orag jawa ya.. saya malah suka kalau mereka (kenapa saya pakai kata "mereka"???) berbahasa halus, meski kalah halus dari bahasa sunda bandung,.. atau melihat kesederhanaan mereka, meski banyak juga yang sombong bin ankuh bin ajaib. Jelasnya gw menghargai setiap etnic di bumi ini (cieeeeeeee), semua merupakan hasil penciptaan sempurna. Kembali ke OVJ, gara-gara mereka sepertinya hanya terdiri dari 2 suku yang mendiami pulaujawa, gw kadang jadi gak ngerti mereka bilang apa kalau lagi di panggung, kalau keluar istilah jawa ato sundanya? Contoh, berapa penonton non jawa-sunda yang tau arti "mboten", "sieun", dll…. Ya, gw jadinya mesti nanya-nanylah "tadi tuh artinya apa?" orang mau nonton komedi, mau ketawa, ini malah harus kursus bahasa dulu… cpekdeh….

Yang kedua, lawakannya kok sepertinya hanya mengandalkan atraksi jatuh-jatuhan wayangnya….. hah,apaan tuh…. Memancing tawa dengan jatuh-jatuh , ya,,,….. terus terang, gw mah bosen…….


 

Apalagi ya, udahlah… itukan Cuma pendapat ane, buktinya banyak yang suka sekali dengan acara ini, mungkin gw doing yang gak bisa nikmatin.. hehehe


 

 

Tuesday, April 19, 2011

Ciri-ciri karyawan gak betah dan mau resign

Hayooo.. hayooo…

Ciri-ciri
karyawan sudah gak betah dan mau resign.. (berdasarkan pengalaman pribadi, hehehe)

  1. Jadi malas kerja,.. Kerjaan mau beres kek, mau berantakan kek, mau diomelin kek, pokoke terserah…. Dalam hati bilangnya (orang gw dah mau resign ini… hehehe)
  2. Jadi seneng tenggo ( teng langsung go…..) Alias pulang tepat waktu… kalau pulangnya jam 5 misal, jam 4.30 udah gak ngerjain apa-apa lagi itu, jam 4.45 masuk loker, beres-beres.. Trus jam 4.58 udah jalan menuju tempat absen.. Jam 5.00 teng-teng absen … cabutttt….
  3. Jadi sering buka situs pencari lowongan kerja, minimal jobstreet, jobsdb, dan karir.com,….
  4. Kalau buka email, yang paling pertama di cari adalah email dari 3 web diatas…
  5. Jalinan silaturahmi dengan teman-temannya meningkat drastic,… maksudnya jadi sering sms-an, atau nelpon-nelpon teman buat cari tahu info loker…
  6. Mendadak sering update-update cv dan surat lamaran kerja…
  7. Jadi narsis sendiri (hehehe). Maksudnya jadi sering foto-foto, lumayan buat kenang-kenangan.
  8. Jadi sering sakit, minta cuti, atau malah mangkir, hehehe. Ini kalo tiba-tiba dapat panggilan interview atau psikotest yang bentrok dengan jam kerja.
  9. …… apa lagi ya…………..

Wednesday, April 13, 2011

Tahukah Anda Asal Nama Makassar?

ane lahir di makassar, setidaknya lebih dari 10 tahun lamanya ane tinggal di makassar (dulu sih namanya pernah diganti jadi ujung pandang), tapi baru sekarang ane tahu asal-usul nama makassar,.ckckckck.. lha waktu dulu sd seingat ane cuma diajarin aksara lontara dan bahasa daerah makassar, asala nama makassar sendiri seingat ane gak pernah diajarin...

so check this out...

Walaupun umurnya sudah 403thn, Kota Makassar masih terbilang muda jika dibandingkan sejarah nama Makassar yang jauh menembus masa lampau. Tapi tahukah Anda muasal dan nilai luhur makna nama Makassar itu?

Tiga hari berturut-turut Baginda Raja Tallo ke-VI Mangkubumi Kerajaan Gowa, I Mallingkaang Daeng Mannyonri KaraEng Katangka yang merangkap Tuma'bicara Butta ri Gowa (lahir tahun 1573), bermimpi melihat cahaya bersinar yang muncul dari Tallo. Cahaya kemilau nan indah itu memancar keseluruh Butta Gowa lalu ke negeri sahabat lainnya.

Bersamaan di malam ketiga itu, yakni malam Jum'at tanggal 9 Jumadil Awal 1014 H atau tanggal 22 September 1605 M. (Darwa rasyid MS., Peristiwa Tahun-tahun Bersejarah Sulawesi Selatan dari Abad ke XIV s/d XIX, hal.36), di bibir pantai Tallo merapat sebuah perahu kecil. Layarnya terbuat dari sorban, berkibar kencang. Nampak sesosok lelaki menambatkan perahunya lalu melakukan gerakan-gerakan aneh. Lelaki itu ternyata melakukan sholat. Cahaya yang terpancar dari tubuh Ielaki itu menjadikan pemandangan yang menggemparkan penduduk Tallo, yang sontak ramai membicarakannya hingga sampai ke telinga Baginda KaraEng Katangka. Di pagi buta itu, Baginda bergegas ke pantai. Tapi tiba-tiba lelaki itu sudah muncul ‘menghadang’ di gerbang istana. Berjubah putih dengan sorban berwarna hijau. Wajahnya teduh. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya.

Lelaki itu menjabat tangan Baginda Raja yang tengah kaku lantaran takjub. Digenggamnya tangan itu lalu menulis kalimat di telapak tangan Baginda "Perlihatkan tulisan ini pada lelaki yang sebentar lagi datang merapat di pantai,” perintah lelaki itu lalu menghilang begitu saja. Baginda terperanjat. la meraba-raba matanya untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi. Dilihatnya telapak tangannya tulisan itu ternyata jelas adanya. Baginda KaraEng Katangka lalu bergegas ke pantai. Betul saja, seorang lelaki tampak tengah menambat perahu, dan menyambut kedatangan beliau.

Singkat cerita, Baginda menceritakan pengalamannya tadi dan menunjukkan tulisan di telapak tangannya pada lelaki itu. “Berbahagialah Baginda. Tulisan ini adalah dua kalimat syahadat,” kata lelaki itu. Adapun lelaki yang menuliskannya adalah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassallam sendiri. Baginda Nabi telah menampakkan diri di Negeri Baginda.

Peristiwa ini dipercaya sebagai jejak sejarah asal-usul nama "Makassar", yakni diambil dari nama "Akkasaraki Nabbiya", artinya Nabi menampakkan diri. Adapun lelaki yang mendarat di pantai Tallo itu adalah Abdul Ma'mur Khatib Tunggal yang dikenal sebagai Dato' ri Bandang, berasal dari Kota Tengah (Minangkabau, Sumatera Barat). Baginda Raja Tallo I Mallingkaang Daeng Manyonri KaraEng Katangka setelah memeluk Agama Islam kemudian bergelar Sultan Abdullah Awaluddin Awawul Islam KaraEng Tallo Tumenanga ri Agamana. Beliau adalah Raja pertama yang memeluk agama Islam di dataran Sulawesi Selatan.

Lebih jauh, penyusuran asal nama "Makassar" dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu: 1. Makna. Untuk menjadi manusia sempurna perlu "Ampakasaraki", yaitu menjelmakan (menjasmanikan) apa yang terkandung dalam bathin itu diwujudkan dengan perbuatan. "Mangkasarak" mewujudkan dirinya sebagai manusia sempurna dengan ajaran TAO atau TAU (ilmu keyakinan bathin). Bukan seperti yang dipahami sebagian orang bahwa "Mangkasarak" orang kasar yang mudah tersinggung. Sebenarnya orang yang mudah tersinggung itu adalah orang yang halus perasaannya.

2. Sejarah. Sumber-sumber Portugis pada permulaan abad ke-16 telah mencatat nama "Makassar". Abad ke-16 "Makassar” sudah menjadi ibu kota Kerajaan Gowa. Dan pada Abad itu pula, Makassar sebagai ibu kota sudah dikenal oleh bangsa asing. Bahkan dalam syair ke-14 Nagarakertagama karangan Prapanca (1365) nama Makassar telah tercantum.

3. Bahasa. Dari segi Etimologi (Daeng Ngewa, 1972:1-2), Makassar berasal dati kata "Mangkasarak" yang terdiri atas dua morfem ikat "mang" dan morfem bebas "kasarak". Morfem ikat "mang" mengandung arti: a). Memiliki sifat seperti yang terkandung dalam kata dasarnya. b). Menjadi atau menjelmakan diri seperti yang dinyatakan oleh kata dasarnya. Morfem bebas "kasarak" mengandung (arti: a). Terang, nyata, jelas, tegas. b). Nampak dari penjelasan. c). Besar (lawan kecil atau halus).

Jadi, kata "Mangkasarak" Mengandung arti memiliki sifat besar (mulia) dan berterus terang (Jujur). Sebagai nama, orang yang memiliki sifat atau karakter "Mangkasarak" berarti orang tersebut besar (mulia), berterus terang (Jujur). Sebagaimana di bibir begitu pula di hati.

John A.F. Schut dalam buku "De Volken van Nederlandsch lndie" jilid I yang beracara : De Makassaren en Boegineezen, menyatakan: "Angkuh bagaikan gunung-gunungnya, megah bagaikan alamnya, yang sungai*sungainya di daerah-daerah nan tinggi mengalir cepat, garang tak tertundukkan, terutama pada musim hujan; air-air terjun tertumpah mendidih, membusa, bergelora, kerap menyala hingga amarah yang tak memandang apa-apa dan siapa-siapa. Tetapi sebagaimana juga sungai, gunung nan garang berakhir tenang semakin ia mendekati pantai. Demikian pulalah orang Bugis dan Makassar, dalam ketenangan dapat menerima apa yang baik dan indah".

Dalam ungkapan "Akkana Mangkasarak", maksudnya berkata terus terang, meski pahit, dengan penuh keberanian dan rasa tanggung jawab. Dengan kata "Mangkasarak" ini dapatlah dikenal bahwa kalau dia diperlakukan baik, ia lebih baik. Kalau diperlakukan dengan halus, dia lebih halus, dan kalau dia dihormati, maka dia akan lebih hormat



source : penjelajahan tak disengaja di dunia kaskus, buat yang udah posting di kaskus , thank you so much..