Monday, September 1, 2014

Dinginnya Dieng, Sebuah catatan kecil Dieng Culture Fest 2014 (Part 1)

Dimana tempat terdingin di Indonesia? Hmm.. Awalnya saya hanya mengetahui Puncak Jaya, Papua, dengan es abadinya. Namun ternyata dari ngobrol dengan mas penjual makanan langganan, saya tahu tempat lagi yang namanya Dieng, sebuah desa yang dapat ditempuh sekitar 40 menit perjalanan dari kota Wonosobo, yang juga dijuluki Desa Di Atas Awan karena terletak di ketinggian >2000 mdpl.

Setelah browsing sana-sini ketemulah acara Dieng Culture Festival. Sebuah festival budaya tahunan yang diadakan di Dieng, dengan acara puncaknya yaitu ritual pencukuran rambut gembel. Nah, ini dia. Sebuah acara yang harus saya hadiri, setelah tahun 2013 saya melewatkan acara ini.

Map picture

#DCF 5

Rangkaian acara DCF ke 5 ini dimulai dari tanggal 30-31 Agustus 2014. Jauh hari sebelum acara ini saya bergabung dengan sebuah group yang akan mengadakan trip ke Dieng ini. Sebuah group yang beranggotakan anak-anak muda yang gemar menjelajah keindahan negeri ini, dari 20 lebih anggota group ini hanya 1 yang saya kenal mariza (icha) teman kos saya, dan Lingga yang tempat tinggalnya dekat di Tambun. Inilah seninya berlibur bersama menikmati keindahan Indonesia dan menambah teman baru dari berbagai daerah.

 

Jumat, 29 Agustus 2014

Saya dan Icha bergegas menuju Meeting Point untuk bertemu dengan teman yang berangkat dari Stasiun Senen. Dari Stasiun Senen kami bertujuh menaiki kereta Progo kelas ekonomi seharga 50.000 menuju Meeting Point di Stasiun lempuyangan Jogjakarta. Dari Stasiun Lempuyangan inilah kami akan berangkat dengan menggunakan bus langsung menuju Dieng. Dari Stasiun Senen kereta berangkat pukul 22.30 dan tiba di Stasiun Lempuyangan pukul 06.50. Ini pertama kali saya naik kereta ekonomi AC. Dalam sebuah gerbong dengan kursi plastik dengan sandaran tegak formasi seat 2 – 3 dan berhadap-hadapan. Bersiaplah beradu lutut dengan penumpang di depan. Ya ya ya.. ada harga ada barang. Just enjoy the journey..

 

Sabtu, 30 Agustus 2014

Kami akhirnya bertemu dengan anggota group yang lain di Stasiun lempuyangan. Setelah berkenalan, dan sedikit mengisi perut dengan makanan hangat seadanya kami berangkat menuju Dieng sekitar pukul 8. Sepanjang perjalanan kami dihadang oleh 2 karnaval memperingati 17 agustus.. hhhaaa. Satu karnaval di Kab. Sleman, dan satu karnaval lagi di Kab. Wonosobo dekat Dieng. Perjalanan kami akhirnya molor sekitar 3 jam karena karnaval ini. Pada karnaval ke dua, banyak yang memutuskan untuk turun dari bus dan berjalan kaki menuju tempat peristirahatan pertama di Gardu Pandang, termasuk saya dan Icha. Selain karena sudah masuk daerah pegunungan sehingga udaranya  sejuk (termometer yang saya bawa menunjukkan suhu 15* C), menikmati karnaval ternyata bukan ide yang buruk hahay...

 

IMG_3722 IMG_3707 IMG_3708 IMG_3719

Di Gardu Pandang (> 1800 mdpl) kami mengisi perut yang sudah sangat kelaparan dengan Mie Ongklok dan teh hangat. Dari Gardu Pandang kami melanjutkan perjalanan ke  Desa Wisata Dieng, sampai disana guide kami (Mas Tommy) melakukan registrasi. Dengan 175 ribu, kami mendapatkan goodie bag berisi tiket VIP (dapat menyaksikan prosesi pencukuran rambut lebih dekat dan bebas masuk telaga warna), satu t-shirt, satu kain batik, satu lampion, satu jagung, satu tiket masuk kawah sikidang, dan beberapa panduan wisata.

Setelah registrasi kami langsung dibawa menuju kawah Sikidang. Suhu semakin turun hingga mencapai 10* C.

IMG_3740 IMG_3746 IMG_3755  IMG_3759

 

Dari Sikidang kami menuju home stay yang sudah dipesan mas Tommy. Thanks Mas Tom, the home stay is amazingly big, clean, and has easy access to the venue. Di home stay kami makan malam, dan saya mencoba mandi tanpa menggunakan air hangat. dan… hhaa saya hanya kuat mandi sebanyak 4 gayung saja… Benar-benar dingin.

IMG_3948 IMG_3764 IMG_3903

Rangkaian acara malam ini adalah pertunjukan jazz di atas awan, kembang api dan pelepasan lampion. Di tengah suhu yang terus turun hingga 7* C, ratusan atau bahkan mungkin ribuan wisatawan dan warga lokal  memadati area pelaksanaan acara. Tak lupa kami menuliskan harapan kami pada wish lampion ini. Tama yang ingin cepat lulus, Dirthon yang ingin kerja di Nokia, dan beragam keinginan kami tuliskan di lampion ini. Kembang api diluncurkan, lampion diterbangkan, music jazz mengiringi, sungguh indah malam ini.

  IMG_3781  IMG_3770IMG_3785IMG_3792 IMG_3802 IMG_3805   

Pukul 24 tepat kami kembali ke homestay, mempersiapkan diri untuk acara esok hari, mendaki bukit pakuwojo dan menikmati golden sunrise (rencananya…)

Wednesday, February 19, 2014

Suka duka bersama thunder 125 tahun 2005

 

Cerita tentang si Thundie…

Si thundie saya beli sekitar akhir tahun 2009. Artinya, sebelum saya beli dia udah dipelihara sama tuan pertamanya sekitar 4 tahun. Saya ingat momen pertama melihat si thundie. Saat itu, saya ditemani wahyu, berniat mencari motor bekas untuk mempermudah saya ke kantor dan kampus. Saat itu, dan terbukti hingga saat ini, pilihan paling realistis untuk memiliki motor tanpa harus menggangu pengeluaran rutin kuliah adalah dengan membeli motor bekas. Saat itu saya hanya ingin membeli motor bebek yang harganya 4 jutaan, saya pun hampir deal dengan penjualnya, sebelum akhirnya tidak sengaja melihat sebuah motor besar, berwarna merah yang berada dalam ruang tamu sang makelar. Akhirnya saya jatuh hati dengan si thundie. Jadilah dia kutebus dengan harga 7 juta pas.

clip_image002

Kalau mau tahu kejadian pas gw ketemu sama si thundie ini , ingat saja adengan pas si Sam Witcwiky (cmiiw) ketemu sama si bumblebee pas dia nyari mobil bekas di film Transformer, itu persis sama. Bedanya gw dapet motor, dia dapat mobil, gw merah dia kuning. Dan gw juga masih berharap bahwa thundie gw setelah diledekin sama pacar bakal ngambek dan merubah dirinya jadi Ducati. Amieeeen…

Sekarang sudah hampir 3,5 tahun dia menemaniku. Selama itu thundie ikut bersamaku berpindah kontrakan hingga 6 kali, berpindah kerja 3 kali, menanjak ke puncak, weekend ke bandung, bertahun baru di curug ciherang, dan bisa dibilang dia adalah sosok yang paling sering bersamaku sejak akhir 2009, tak terhitung jumlah kilometer yang telah kami lalui (karena sampai sekarang indikator kilometernya rusak,-p).

Dia telah menemaniku berkutat di Cikarang (kontrakan-Jababeka-Serang-kampus PU-danone), telah kupaksa berjalan jauh 5 hari seminggu ketika berkerja di Smart (Marunda-Cikarang-Bekasi), dan sekarang (Bekasi-Cibitung-Cikarang).

Jadi ini dia masalah yang kuhadapi selama 3.5 tahun bersama thundie di usianya yang sekarang hampir 8 tahun ini.

1. Masalah pertama yang kutemukan adalah ketika distarter dia bisa nyala, tapi ketika di gas dikiit dia mati (kata orang sini ngempos, cmiiw). Kalau kata orang mekanik suzukinya, itu karena jarum skep nya udah baret. Jadi nggak mulus naik turunnya, solusinya kata dia, ganti karbunya pake punya RX King. Hhhaaa aneh aja bengkel resmi suzuki suruh pake punya King. Solusi jangka pendek, kalo masalahnya datang, tinggal jalanin thundie sambil chuknya di tarik, sambil di gas tinggi, trus kembalikan chuknya ke posisi normal.

Tapi masalah ini akhirnya selesai dan tidak datang lagi setelah saya ganti tempat servis ke bengkel pinggir jalan dekat komplek. Jadi tergantung montir yang menangani kayaknya. Alhamdulillah sampe sekarang pindah-pindah bengkel lagi gak pernah kambuh penyakit ini.

2. Aki soak. Hmm,, ini masalah standar ya. Tiap motor pasti mengalami lah ya. Tapi saya salut sama aki thundie, saya pertama ganti aki dia itu tahun 2011, you see. Aki bawaanya bertahan dari 2005 sampai 2011. Tapi memang sebelumnya sudah sempat di strum ulang sakitar 2 kali sampai akhirnya kata tukang aki sudah tidak bisa diisi ulang, harus ganti.

Yang bikin duka adalah masalah ini sebenarnya, tau sendiri si thundie yang satu ini gak ada starter kakinya. Jadinya kalau aki tekor nggak bisa starter tangan, harus dimasukin ke gigi 2 atau 3, tarik kopling, dorong sampai kencang, lepas koping dan.,.. brmmmm atau cara lain standar tengah, masukin gigi 2 atau 3, putar ban belakang sekuat tenaga, dan,,, brmmmm (kalau beruntung –P)

3. Spul pengisian gosong. Ini menarik, gejalanya adalah, aki baru dipasang, gak sampai seminggu sudah tekor, diisi dan distrum ulang tetap sama, tekor juga besoknya. Ternyata penyebabnya adalah spul pengisiannya gosong, jadi tidak ada supply arus yang mengisi ulang aki. Solusinya ganti spul sekitar 230 ribuan. Masalah selesai. Dan lihat lagi spul itu baru diganti yahun 2013 ini, diusia yang ke 7 tahun thundie. Wajarkan?

4. Karet (itu bahannya karet bukan?) vakum bocor (ini juga tahun 2013 kejadiannya), kalau ini gejalanya nggak bisa jalan bener, tarik gas dikit mati. Solusinya, ganti. Kalau ori 80 ribuan kayaknya. Tapi berhubung itu hari saya service di bengkel TVS jadi sama montirnya dikasih bekasan punya TVS Cuma ngasih ke montirnya 35rb.

5. Lampu depan mati. Ini juga semua motor sama…. Tinggal ganti ini…

6. Gak ada angin gak ada petir, bensin full aki bagus, langsung mati di tengah jalan. Suaranya kayak ga ada bensin yang masuk. Pas di cek selang bensinnya, gak ada yang keluar dari kran, ;padahal posisi keran on. Penyebabnya ternyata tangki dalam keadaan vakum, karena aliran udara di tutup bensin tersumbat. Bayangin, kalo mau tuang susu kental manis dari kalengnya tapi lubangnya Cuma 1. Susah kan? Seperti itulah keadaanya. Solusi : Bersihkan tutup tangki!

7. Diceeingin / diledekin Ari sama Pudin. Hhhe bodo ah, motor gue ini.. –p.

8. Tachimeter gak jalan, ini gara-gara sok tau jalan. Baru lewat jalan Setu, posisi kencang, trus bruk, ptek, masuk lubang, ga jatuh emang, Cuma abis itu tachimeter gak jalan. Ga butuh amat ini, amat juga ga butuh ini.

9. Sukanya adalah saya ga pusing mikirin cicilan bulanan yang harus dibayar berbarengan dengan uang kuliah gw yang 1 juta lebih sebulan…. Syukur-syukur…….

Wednesday, January 15, 2014

Sains dan Agama

Geli… itulah yang saya rasakan ketika melihat tayangan yang tiba-tiba mengklaim penemuan ilmiah saat ini ternyata telah dijelaskan dalam Islam berabad lampau. Oke bagi saya jika mengatakan “telah dijelaskan dalam Islam” atau “sesuai dengan petunjuk dalam Islam” maka islam yang dimaksud adalah Kitab Al-Qur’an dan Hadist Rosulullah. Hmmm… Ya, kenapa ya muslim sekarang sukaaa sekali mencocok-cocokkan penemuan saat ini dengan Islam, bahkan terkesan sangat dipaksakan.

Bagi saya sains ya sains, agama ya agama. Ya, Islam mengajarkan dan mendorong manusia untuk meneliti dan terus belajar. Tapi apakah ketika banyak penemuan dan teori saat ini akan selalu diklaim telah dijelaskan berabad-abad yang lampau dalam Islam. Nah gini, yang namanya penemuan, publikasi ilmiah, teori yang ada saat ini kan diperoleh melalui pendekatan ilmiah dan cara yang ilmiah pula, yang bisa jadi akan terbantahkan dengan teori, penemuan, publikasi lain yang juga diperoleh melalui jalan yang sama.

Ketika muslim berkata bahwa teori bigbang telah dijelaskan dan sesuai dengan Islam, kemudian ternyata dikemudian hari teori ini terbantahkan, mau bilang apa?

Ya udah lah. Romantisme masa lalu dengan mengatakan bahwa Islam lah yang mencerahkan Eropa saat eropa memasuki masa kegelapan, memang benar. Tapi, peran muslim saat itu adalah dengan mentransfer pengetahuan yang hilang dari peradaban Yunani dan Romawi kan? (CMIIW).

Janganlah juga ada lagi gambar-gambar buah yang ketika dibelah menunjukkan kemiripan dengan lafadz Alloh atau ketika ada deretan pohon yang jika dari salah satu angle terlihat seperti bertuliskan kalimat tauhid, kemudian di gembar-gemborkan sebagai bukti kebenaran Islam. Haaa….. Itu membuat saya geli. Kebenaran akan tetap kebenaran, seperi mutiara yang akan tetap menjadi mutiara walau berada dalam lumpur. Tidak perlu memaksakan dengan gambar buah-buahan, pohon-pohonan, motif sisik ikan yang direka-reka hingga mirip tulisan arab.